Rabu, 25 Juli 2012

Bukti impartasi



Lukas 10:17-20

Apa sasaran atau tujuan akhir dari hidup kita? (ayat 40)

Pengajaran :
Bapa rindu agar kita menjadi serupa dengan Yesus, Fiman yang hidup itu. Yesus berkata, “karena itu, hendaklah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Apakah kita mau menjadi sempurna seperti Yesus? Itu pasti terjadi! Sebab kita terlahir dari benih firman Allah. (1 Petrus 1:23). 

Kita pasti bisa menjadi seperti Yesus. Untuk menjadi seperti-Nya, kita harus :
a. Lahir baru dari benih Yesus.(Yohanes 3:1-6)
b. Dimuridkan dan memuridkan orang lain, dalam one on one di dalam kamit. (Kolose 1:28-29).
Apakah kita sudah dimuridkan (SMK) secara One on One dalam kamit? Beberapa tokoh yang dimuridkan secara One on One dalam Alkitab seperti:
1. Simon Petrus. Seorang yang emosional dan pernah menyangkal Yesus 3 kali. Setelah dimuridkan One on One, dia berubah menjadi Rasul yang luar biasa dan memenangkan 3.000 jiwa dalam satu kali pelayanan Serta akhirnya, dia meninggal karena disalib secara terbaik (kepala menghadap ke bawah)
2. Yohanes. Yohanes pernah meminta api turun dari langit untuk membakar orang-orang Samaria
(Lukas 9:54). Akhirnya, murid ini diubahkan menjadi seorang Rasul yang penuh kasih. 

Apakah Anda adalah murid Kristus? Maukah Anda menjadi seperti Dia? Syaratnya, kita harus belajar sampai selesai, sampai lulus! Seorang sarjana, baru bisa benar-benar disebut sebagai sarjana yang sebenarnya, jika dia sudah lulus dari ujian, skripsi dan telah diwisuda. Demikian juga dengan murid Kristus, baru bisa disebut sebagai murid, jika sudah lulus. Seorang murid yang sudah tamat, pasti akan sama dengan gurunya. Apakah Anda mau dimuridkan?

T2.
Mari kita membayangkan, bahwa kita adalah orang yang menjadi murid Tuhan dengan sistim one on one. Kita mau setia dan belajar sampai tamat.

T3.
Bagi Anda yang belum mengikuti pemuridan SMK, segeralah menadaftar dan ikuti dengan setia sampai selesai. Bagi Anda yang sudah ikut tetapi belum selesai, tetaplah setia mengikuti SMK sampai selesai. Bagikanlah berkat hari ini kepada mereka yang membutuhkan. Ceritakanlah pengalaman Anda selama dimuridkan, di dalam persekutuan kamit.

Ayat hafalan:  
Lukas 6:40 – “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.”

Seorang murid, selalu belajar sampai selesai

Selasa, 24 Juli 2012

Mempraktekkan Impartasi



Lukas 9:1-6

Apa tujuan utama Yesus mengimpartasikan kuasa dan wibawa-Nya?

Pengajaran :
Ketika murid-murid menerima kuasa dan impartasi dari Yesus, Lukas mencatat bahwa para murid pergi mengelilingi desa-desa dan memberitakan Injil serta menyembuhkan orang sakit. Ternyata seteah diimpartasikan, kuasa dan wibawa itu tidak langsung bekerja, tetapi harus dipraktekkan dalam tindakkan iman.

Pada saat, murid-murid mempraktekkan hal ini, mujizat, setan-setan dikalahkan dan kesembuhan terjadi menyertai pelayanan mereka. Mereka tidak ragu-ragu untuk mengimpartasikan kuasa dan wibawa Yesus kepada jiwa-jiwa yang mereka layani, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sahabat, keragu-raguan seringkali menghambat pemurid dan orang yang dimuridkan dalam mempraktekkan kuasa dan wibawa Yesus. Keraguan juga sering menghinggapi orang yang kita layani. Jika mereka meragukan kuasa yang kita impartasikan, juga bisa menghambat. Tetapi ketika Yesus membagikan kuasa dan tenaga-Nya kepada para murd, Dia melakukannya dengan keyakinan penuh, bahwa kuasa yang dibagiakan-Nya, pasti akan sangat efektif, ketika para murid mulai bertindak. 

Jadi ingatlah, sebelum kita membagikan kuasa Tuhan, yakinkanlah terlebih dahulu mereka yang kita layani akan impartasi kuasa ini. Sehingga mereka menerima impartasi dengan iman. Selain itu, kita juga harus membagikan kuasa itu dengan iman pula. Percayalah, kuasa itu akan efektif bekerja ketika dibagikan dengan iman dan diterima juga dengan iman.

T2.
Bayangkan bahwa kita adalah orang yang telah membagikan kuasa Tuhan dengan iman kita, kepada orang-orang yang telah kita layani.

T3.
Yakinlah dengan impartasi kuasa yang telah kita terima dari gembala kita dan bagikanlah juga kuasa itu dengan iman. Bagikan berkat hari iini kepada mereka yang membutuhkan.

Ayat hafalan:  
Lukas 9:6 – “Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat”..

Terima dan Bagikanlah Kuasa Tuhan, dengan Iman!

Senin, 23 Juli 2012

Berbagi Kehidupan



2 Timotius 3:10

Apa yang dimaksud dengan berbagi kehidupan? Sudahkah Anda melakukannya?

Pengajaran :
            Sahabat, di dunia banyak orang-orang yang terkenal. Dari yang baik, sampai yang negatif. Misalnya artis, olahragawan, pejabat, konglomerat, hamba-hamba Tuhan, sampai diktator dan teroris. Orang-orang itu, memiliki banyak penggemar (fans). Para fans itu, secara tidak langsung mengharapkan agar, orang-orang itu dapat berbagi kehidupannya (transfer/impartasi) sehingga lambat-laun, bisa menjadi seperti orang-orang itu.
            Persoalannya adalah kehidupan yang dibagikan dari orang-orang itu. Teroris akan menghasilkan teroris juga. Tetapi jika kehidupan yang dibagikan adalah kehidupan yang kudus, maka hasilnya kudus juga. Berbagi/impartasi kehidupan ini, pasti akan dialami oleh semua orang. Bukankah manusia dibentuk oleh lingkungannya? Artinya lingkungan itu telah mengimpartasikan kehidupannya kepada manusia. Hal ini terjadi begitu saja secara spontan, tanpa diminta.
            Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk melihat bagaimana lingkungan kita dan dengan siapa saja kita bergaul. Hiduplah dalam pembapaan di gereja, karena kita akan menerima pembagian/impartasi kehidupan dari bapa/mentor kita.Selain itu, kita juga harus berbagi/impartasi kehidupan kita kepada orang lain. Suami impartasi kehidupan kepada istrinya, orang tua terhadap anak-anaknya, PKS terhadap anggota-angotanya, sponsor terhadap sponsee-nya, guru terhadap muridnya. Dengan cara ini bisa mengatasi/mengurangi dampak impartasi dari lingkungan yang kurang sehat.
            Paulus sudah memberikan teladan bagi kita dalam hal berbagi kehidupan. Dia mendapatkan impartasi kehidupan dari para Rasul dan dia juga membagikan kehidupannya, salah satunya kepada Timotius, lewat pemuridan.  Inilah salah satu pengertian dari One on One, yang dipraktekkan di gereja kita.

T2.
Bayangkanlah bahea kita adalah orang yang telah terimpartasi kehidupan dari bapa/mentor kita. Kita juga sudah mengimpartasikan kehidupan kita kepada orang lain, dalam lingkungan kita.

T3.
Sudahkah kita membagikan keidupan kita kepada orang lain? Sudahkah kita memuridkan orang lain dalam gereja? Prakktekan gaya hidup berbagi kehidupan dalam kamit masing-masing. Dapatkan berkat kebenaran hari ini dan bagikanlah kepada mereka yang membutuhkannya.

Ayat hafalan:  
2 Timotius 3:10 - Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku”

Sudah siapkah Anda mengimpartasikan kehidupan?

Minggu, 22 Juli 2012

Krisis Kasih Melanda Segala Aspek kehidupan



Apakah anda bisa mengalahkan krisis kasih yang melanda setiap segi kehidupan umat manusia dibumi ini?

Saat ini krisis kasih terjadi di mana-mana, entah dalam kehidupan masyarakat, bangsa, keluarga, bahkan juga gereja.  Ayat 2-4 menggambarkan keadaan manusia di akhir zaman ini.  Intinya:  manusia kini memiliki kencenderungan mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi mengasihi orang lain.  Kini karakter kasih sulit sekali ditemukan dalam diri manusia.
Kasih mudah diucapkan, tapi untuk mempraktekkan ada harga yang harus dibayar.  Kebanyakan orang menjadikan kasih hanya sebagai slogan saja, tapi ketika dihadapkan pada dunia nyata, kasih hanyalah bayang-bayang dan yang sering muncul justru hal-hal yang sebaliknya.  Bagaimana reaksi kita saat dibenci, difitnah dan disakiti oleh orang lain? . Setiap kali kita diperlakukan secara buruk atau menyakitkan selalu timbul keinginan untuk membalas dengan perlakukan yang sama atau bahkan mungkin kita melakukan hal yang lebih buruk dan kejam.  Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus,  "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."  (Matius 5:44).  Kasih adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah lawan menjadi kawan!
Ada banyak hal yang membuat kita tidak dapat menunjukkan kasih kepada sesama.  Terkadang kita sudah berusaha mengasihi orang-orang yang membenci kita.  Tetapi mereka terus memperlakukan kita dengan buruk sehingga kekuatan kasih kita mulai menjadi melemah.  Kasih kita menjadi semakin berkurang dan lambat laun menjadi pudar, dan sebagai gantinya, karakter-karakter lama kita kembali muncul.  Supaya kita bisa mengasihi orang lain secara bijaksana di tengah situasi yang sulit, adalah baik merenungkan betapa besar kasih Allah kepada kita.  Seharusnya hati kita menjadi hancur bila kita mengingat-ingat bagaimana Tuhan berulang-ulang mengampuni kita dan bersabar terhadap kita, padahal kita seringkali memberontak dan menyakiti Dia dengan ketidaktaatan kita.  Lalu, bagaimana mungkin kita terus membenci orang lain sedangkan Allah terus-menerus menunjukkan kasihNya kepada kita, sekalipun kita berdosa padaNya?  Bahkan, Ia rela menanggung penderitaan karena dosa-dosa kita sehingga kita beroleh keselamatan.  Alkitab menyatakan,  "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."  (1 Yohanes 4:8).

T2.  Bayangkan bahwa kita adalah orang yang tidak dilanda dan dikuasai oleh krisis kasih.
T3. Marilah kita membalas kejahatan dengan kebaikan,  tetap hidup dalam kasih Kristus dan selalu mempraktekkan kasih Kristus dalam hidup kita setiap hari. Bagikanlah berkat firman Tuhan hari ini kepada mereka yang membutuhkan kebenaran firman Tuhan ini.

Ayat hafalan:  "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang."  2 Timotius 3:2a
 

 KUASA KASIH KRISTUS DAPAT MENGUBAH SEGALANYA

Sabtu, 21 Juli 2012

Menjauhi Dosa Dan Mengejar Kebenaran




Apakah anda telah menjauhi diri anda dari dosa dan selalu mengejar hal-hal yang benar dalam hidup anda?

Tuhan memanggil kita bukan hanya sebatas untuk diselamatkan, melainkan lebih daripada itu, yaitu supaya kita memiliki kehidupan yang semakin hari semakin serupa dengan Kristus.  Jadi, Tuhan  "...memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."  (1 Tesalonika 4:7).  Tuhan menghendaki kita hidup di dalam kekudusan,  "...sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis:  Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  (1 Petrus 1:15).
Kekudusan mungkin hal yang sering kita bicarakan, namun juga sekaligus hal yang sering dihindari.  Hidup kudus bagi setiap orang percaya bukan sekedar saran, anjuran atau nasihat saja, tetapi sebuah keharusan atau perintah, dan itu menuntut ketaatan kita yang telah dipanggil sebagai anak-anakNya.
Untuk menjadi kudus atau serupa dengan Kristus diperlukan proses yang harus kita kerjakan terus-menerus:  1.  Menjauhi segala kejahatan.  Tuhan memerintahkan kita untuk lari menjauhi dosa.  Bukankah perintah ini sering kita dengar?  Meski demikian kita masih saja mengeraskan hati dan tidak mau taat.  Dalam 1 Korintus 6:18 dikatakakn:  "Jauhkanlah dirimu dari percabulan!  Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya.  Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.  Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah.  -dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?  Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:..."  (1 Korintus 6:18-20a) dan juga  "...jauhilah penyembahan berhala!"  (1 Korintus 10:14)..  Termasuk juga tentang cinta uang:  "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang."  (1 Timotius 6:10a). 

Firman Tuhan memperingatkan kita agar menjauhi itu semua (percabulan, penyembahan berhala dan cinta uang).  Menjauhi berarti ada tindakan dari kita untuk lari menjauh, bukan hanya diam.  Apabila kita hanya diam, semuanya itu tidak akan lari dari kita, namun akan kian mendekat.  2.  Mengejar perkara-perkara yang rohani (kebenaran).  Apa saja yang harus kita kejar?  Keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.  Bukankah masih banyak orang Kristen yang menganggap remeh atau sepele jam-jam ibadah? Dan mengabaikan perkara-perkara yang bersifat rohani (kebenaran). Padahal kita sebagi anak Allah selayaknyalah kita mengutamakan yang bersifat rohani dari pada yang bersifat duniawi. Sebab jika kita melakukan hal tersebut maka dosa akan menjauh dari kehidupan kita. 

T2. Bayangkan bahwa kita adalah orang yang selalu menolak dosa dan terus-menerus mengejar hal-hal yang bersifat kebenaran.
T3. Marilah kita tegas terhadap dosa dan selalu hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Bagikanlah berkat firman Tuhan hari ini kepada mereka yang membutuhkan kebenaran firman Tuhan ini.
Ayat hafalan:  I Timotius 6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

MANUSIA ALLAH MENOLAK DOSA DAN MENERIMA KEBENARAN

Jumat, 20 Juli 2012

Pertandingan Dan Pemeliharaan Iman



Apakah anda selalu bertanding dengan iman yang teguh dan selalu dapat memelihara iman anda dengan baik?

Ibadah adalah perkara yang sangat penting bagi orang percaya.  Karena itu dalam menjalankan ibadah harus sepenuh hati;  jangan sampai kita beribadah kepada Tuhan dengan setengah hati, asal-asalan atau hanya sebagai rutinitas belaka.  Alkitab menyatakan,  "Latihlah dirimu beribadah.  Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  (1 Timotius 4:7b-8) dan  "...ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."  (1 Timotius 6:6).  Mari perhatikan dengan sungguh ibadah Saudara.  Jangan sembarangan, apalagi menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang ada, baik hari minggu, kamit, winner fellowship setiap hari jumat dan ibadah secara pribadi dimanapun kita berada (
Ibrani 10:25).  Mari gunakan waktu yang ada untuk melayani Tuhan.  Dan apa saja yang dipercayakan Tuhan lakukan itu dengan penuh kesetiaan.  Kehidupan kita harus menghasilkan buah-buah Roh secara nyata (Galatia 5:22-23).

Hidup kekristenan ibarat berada di arena pertandingan, namun  "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah?  Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!"  (1 Korintus 9:24). Bertanding dalam iman.  Kita tidak akan tahu seberapa kuat iman kita sebelum kita masuk dalam pertandingan yang sesungguhnya.  Jadi  "Saudara-saudaraku yang kekasih,...  aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."  (Yudas 3).  Di tengah ujian dan penderitaan yang ada, tetaplah kuat!  Jangan sampai kita mundur di tengah jalan.  Sebaliknya tetaplah  "...taat;  ...kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,..."  (Filipi 2:12).

Mari kita belajar dari Paulus.  Meski dihadapkan pada berbagai-bagai penganiayaan, penderitaan, ancaman dan segala bentuk kesukaran hidup tetapi dia tetap maju, karena dia tahu bahwa Tuhan telah menyediakan upahnya yaitu mahkota kehidupan bagi setiap orang yang setia sampai akhir.  Jadi, tetaplah fight!

T2. Bayangkan bahwa kita adalah orang yang selalu bertanding dengan iman yang kuat karena iman kita selalu terpelihara dengan baik.
T3. Marilah kita mengasah iman kita dengan kita mengikuti setiap pertandingan dalam iman dan kita menangkan setiap pertandingan tersebut dengan iman kita yang kuat. Bagikanlah berkat firman Tuhan hari ini kepada mereka yang membutuhkan kebenaran firman Tuhan ini.
Ayat hafalan: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."  (2 Timotius 4:7).


IMAN YANG KUAT MERUPAKAN SENJATA YANG AMPUH UNTUK MENJADI PEMENANG